Si Ruwi dan Si Bungsu adalah pemuda yang membuka hutan untuk membuat ladang dan pondok di hutan rimba yang jauh dari permukiman. Pada suatu hari, mereka merasa lelah sehingga tidak pergi ke ladang. Ketika mereka membersihkan pondok, datanglah seekor belalang yang biasa disebut Nyet Nyet atau burung sisik (Kisu' Amot) dan hinggap di pundak si Bungsu. Si Ruwi pun menangkap belalang itu dan dimasukkan ke dalam Kapokng (tempat menyimpan garam). Lalu ia mengatakan jika ada yang mencari belalang itu, bilang saja tidak ada.
Tidak lama kemudian, ada seorang kakek berbadan besar dan tinggi yang disebut Apet Buta mencari anjing kesayangannya.
Apet Buta : “Dimana Anjing saya?”
Si Ruwi dan Si Bungsu : “Kami tidak tahu dan tidak ada seekor pun anjing yang melewati daerah ini”
Apet Buta : “Tadi saya mendengar suaranya kea rah sini. Pasti kalian membunuhnya”
Si Ruwi dan Si Bungsu tetap menyangkal
Apet Buta : “Kalau begitu saya cari sendiri dirumah kalian”
Si Ruwi : “Silahkan, tetapi kalau tidak ada dirumah kami, Apet harus merapikan lagi rumah kami”
Apet Buta : Iya, tapi kali anjing saya ada, kalian juga akan saya makan”
Mendengar perkataan Apet Buta, Si Ruwi dan si Bungsu berpandangan dan berucap dalam hati “Semoga ia tidak berhasil menemukannya”. Ketika Apet Buta mengobrak-abrik rumah mereka dan menemukan belalang yang disimpan dalam Baduk. Si Ruwi dan Si Bungsu pun melarikan diri, namun mereka dikejar oleh Apet Buta. Hingga akhirnya Si Ruwi dan Si Bungsu tersandung akar pohon dan terjatuh dan bersandar di rumpun pohon Mudui. Ketika Apet Buta datang dan melihat Si Bungsu dan Si Ruwi memegang dahan Mudui, ia pun lari ketakutan. Melihat Apet Buta lari ketakutan, mereka berpikit mengapa Apet Buta takut menangkap mereka. Kemudian dua bersaudara ini menggoyangkan dahan pohon Madui dan memukulkan dahan Mudui itu ke badan Si Apet Buta hingga ia terluka dan berdarah. Apet Buta pun berlari, namun mereka terus mengejar Apet Buta sembari memukul Apet Buta hingga terjatuh dan mereka terus memukuli Apet Buta. Sampai akhirnya Apet Buta menjadi tumpukan sarang anai-anai yang biasa disebut Tupukng.
Cerita rakyat ini sudah jarang dituturkan dari orang tua kepada anak-anaknya sehingga anak-anak tidak banyak yang tahu tentang cerita rakyat ini. Upaya pewarisan tradisi ini mulai dilakukan yaitu dengan memasukkannya pada muatan lokal di sekolah.